Genangan Masih Bertahan, Warga Jalan Paus Pekanbaru Keluhkan Banjir yang Tak Kunjung Surut
Kabar Sungai Raya- Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru sejak Minggu (12/10) malam kembali menimbulkan genangan di sejumlah titik, salah satunya di kawasan Jalan Paus, Kecamatan Marpoyan Damai. Hingga Senin (13/10) pagi, air masih tampak menggenangi badan jalan dan halaman rumah warga.
Pantauan di lapangan menunjukkan, ketinggian air bervariasi di tiap titik. Di beberapa lokasi, air hanya setinggi mata kaki, namun di titik terendah mencapai hampir lutut orang dewasa. Kondisi ini membuat warga kesulitan beraktivitas, sementara pengendara yang melintas terpaksa memperlambat laju kendaraan agar tidak terperosok ke dalam genangan.
“Air naik sejak sekitar jam sepuluh malam. Sampai pagi ini belum juga surut,” ujar Slamet (42), warga sekitar yang terlihat membantu mengatur lalu lintas kendaraan yang mencoba melintas di tengah genangan air.
Menurut warga, kawasan Jalan Paus memang sudah menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras mengguyur. Namun kali ini, ketinggian air disebut lebih tinggi dari biasanya. “Biasanya cuma sebentar, paling dua jam juga surut. Tapi sekarang airnya bertahan lama, mungkin karena curah hujannya besar dan parit sudah penuh,” kata Fitriani (35), warga lainnya.
Selain hujan deras, warga menduga drainase yang tersumbat menjadi penyebab lambatnya air mengalir. Di beberapa titik terlihat tumpukan sampah plastik yang menyumbat saluran air. Akibatnya, aliran menuju parit besar terhambat, membuat air kembali meluap ke jalan.

Baca Juga : Grove Music Online: Ensiklopedia Musik Dunia yang Hidup di Era Digital
“Kalau hujannya lama, pasti meluap karena paritnya kecil dan banyak sampah. Harusnya dibersihkan rutin,” keluh seorang warga yang berharap pemerintah segera turun tangan.
Hingga pukul 10.00 WIB, belum terlihat upaya penyedotan air di lokasi. Beberapa petugas kebersihan tampak mulai memeriksa kondisi drainase, namun belum ada tindakan signifikan. Sementara itu, sejumlah warga memilih menguras air yang masuk ke rumah menggunakan ember dan pompa kecil agar tidak merusak perabotan.
Kondisi ini juga mempengaruhi arus lalu lintas. Kendaraan roda dua kerap mogok karena terjebak di genangan air, sementara mobil harus bergantian melewati jalur yang lebih tinggi. Sejumlah pengendara bahkan memilih memutar arah untuk mencari jalan alternatif.
Meski sudah terbiasa menghadapi banjir, warga tetap berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret.
“Kami sudah sering melapor. Mudah-mudahan kali ini benar-benar ditangani, supaya Jalan Paus tidak terus-terusan jadi korban banjir,” ujar Slamet.
Cuaca mendung masih menyelimuti wilayah Marpoyan Damai hingga siang hari, menambah kekhawatiran warga bahwa hujan bisa kembali turun dan memperparah genangan yang ada.
Warga berharap air segera surut agar aktivitas bisa kembali normal, terutama bagi anak-anak yang harus berangkat sekolah dan pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari jualan pagi hari.
Banjir di Jalan Paus menjadi pengingat serius akan pentingnya sistem drainase yang baik dan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Tanpa kolaborasi antara warga dan pemerintah, genangan air seperti ini bisa terus menjadi masalah klasik setiap musim hujan tiba.















