Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Crystal Palace Tersingkir dari Liga Europa, Nottingham Forest Diuntungkan

BRIMO

Crystal Palace Tersingkir dari Liga Europa: Dugaan Manuver Pemilik Nottingham Forest Jadi Sorotan

Kabar Sungai Raya- Kabar pahit datang menghantam Crystal Palace kurang dari sehari setelah euforia kemenangan mereka di Community Shield. Steve Parish, sang pemilik klub, yang baru saja larut dalam kebanggaan menyaksikan timnya mengangkat trofi kedua dalam tiga bulan, kini harus menelan kenyataan pahit: banding mereka untuk tetap bermain di Liga Europa resmi ditolak.

Padahal, di Wembley, hanya beberapa jam sebelumnya, Parish terlihat begitu optimistis. Ia yakin penuh bahwa keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) akan membatalkan sanksi UEFA yang menjegal langkah mereka.

Klik Disini

“Saya benar-benar tidak mengerti mengapa kami tidak boleh ikut kompetisi itu,” ujar Parish penuh rasa frustrasi. “Tapi ini keputusan hakim. Kami sudah sampaikan semua argumen kami, tinggal menunggu hasilnya.”

Sayangnya, hasil itu datang dengan kabar buruk. CAS menguatkan keputusan UEFA: Crystal Palace bersalah melanggar aturan kepemilikan multi-klub.

Crystal Palace Tersingkir dari Liga Europa, Nottingham Forest Diuntungkan
Crystal Palace Tersingkir dari Liga Europa, Nottingham Forest Diuntungkan

Baca Juga : Mees Hilgers Absen di Laga Perdana Eredivisie, Pintu Keluar dari Twente Terbuka Lebar


Peran John Textor yang Menjadi Titik Panas

Keputusan ini tidak lepas dari nama besar John Textor, pengusaha asal Amerika yang pernah memegang 43% saham Palace. Meskipun saham itu baru saja ia lepas ke pemilik New York Jets, Woody Johnson, riwayat kepemilikan ganda Textor menjadi masalah utama.

Pasalnya, Textor juga memiliki klub Prancis Olympique Lyon, yang kebetulan lolos ke Liga Europa musim ini. Hanya beberapa detik setelah Palace menumbangkan Manchester City di final Piala FA, Textor kabarnya sudah gelisah. Ia sadar, keikutsertaan dua klub miliknya di kompetisi yang sama adalah pelanggaran besar di mata UEFA.

Panel CAS—yang uniknya beranggotakan mantan striker Belanda, eks atlet anggar Swiss Olimpiade 1984, dan profesor hukum asal Italia—menilai Textor tetap punya pengaruh besar di kedua klub pada saat proses penilaian UEFA.


Nottingham Forest Ikut Terseret

Drama ini makin panas setelah muncul kabar bahwa Nottingham Forest, rival Palace di Premier League, punya andil besar dalam keputusan tersebut.

Evangelos Marinakis, pemilik Forest, disebut-sebut mengirim surat ke UEFA beberapa minggu setelah final Piala FA, mengungkap kekhawatiran bahwa Palace melanggar aturan kepemilikan multi-klub. Dugaan ini diperkuat oleh komentar Parish dalam wawancara dengan Gary Lineker:

“Kami diberitahu itu, dan saya kira sudah menjadi konsumsi publik,” kata Parish. “Kalau memang tidak ada yang ingin mengambil keuntungan, seharusnya tidak ada masalah.”

Forest sendiri memilih bungkam dan tidak menanggapi tudingan ini.


Isu “Kongkalikong” yang Dibantah

Di tengah panasnya situasi, rumor lain pun bermunculan. Beberapa pendukung Palace menuding ada kedekatan antara Marinakis dan Textor yang berujung pada dugaan kongkalikong. Bahkan, sempat beredar kabar akan adanya kerja sama antara klub Brasil milik Textor, Botafogo, dan jaringan klub milik Marinakis.

Textor dengan tegas membantah semua spekulasi tersebut. Namun, fakta bahwa Forest mengirim delegasi hukum ke sidang CAS untuk memperkuat posisi mereka membuat kecurigaan fans Palace tak serta-merta hilang.


Kerugian Besar untuk Palace

Keputusan ini membawa dampak finansial yang signifikan. Diperkirakan, Palace akan kehilangan pendapatan sekitar £20 juta. Babak grup Liga Konferensi Eropa, yang kini harus mereka ikuti, memiliki dua laga lebih sedikit dibanding Liga Europa.

Meski begitu, pelatih Oliver Glasner berusaha tetap optimistis. Kompetisi ini bukan tanpa gengsi—dalam empat edisi awalnya saja, dua klub Inggris sudah mengangkat trofi.


Sejarah yang Terulang

Bagi Palace, ini adalah kesempatan kedua tampil di kompetisi Eropa setelah 27 tahun. Terakhir, mereka mencicipi panggung internasional pada Piala Intertoto 1998. Ironisnya, mereka juga pernah gagal tampil di Eropa pada 1991 meski finis ketiga di Divisi Pertama, karena hanya dua tim teratas yang berhak lolos.

Kini, mereka harus kembali berjuang dari jalur yang lebih terjal: play-off Liga Konferensi melawan tim yang kalah di kualifikasi Liga Europa antara Fredrikstad (Norwegia) dan Midtjylland (Denmark). Midtjylland unggul 3-1 pada leg pertama, membuat kemungkinan pertemuan dengan wakil Denmark semakin besar.


Kesimpulannya — dari pesta trofi, Palace kini terjebak dalam badai politik sepak bola Eropa. Bagi fans, ini bukan sekadar kehilangan tiket Liga Europa, tapi juga perasaan bahwa klub mereka menjadi korban permainan di balik layar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *